Terik Hingga Ke Ubun – Ubun, Perlawanan Pada Zionis Israel Tetap Menggema Di Manakarra

Mamuju48 Pembaca

Darasaksara.comMamujuTerik masih terasa hingga ke ubun – ubun, jarum jam menunjukkan pukul 15.32 Wita di hari Jumat terakhir Ramadhan.

Sejumlah Pemuda dan Mahasiswa nampak sibuk menata perlengkapan seperti spanduk bertuliskan kecaman terhadap Zionis Israel, sound sistem dan lainnya di Nawaicita Anjungan Pantai Manakarra Sulawesi Barat.

Para pedagang kaki lima (PKL) sibuk menata jualan di tengah hilir mudik para pemburu takjil atau mungkin hanya sebatas jalan – jalan sore di anjungan Pantai Manakarra.

Detak jarum jam tak pernah berhenti melaksanakan tugasnya. Hingga pada pukul 17.00 WITA, Ray Akbar Ramadhan yang merupakan salah satu inisiator peringatan hari Al – Quds 2024 mengawali kegiatan sore itu dengan pembacaan Undang – Undang Dasar 1945. Semua yang tergabung mendengarkan dengan takzim.

Pada kesempatan tersebut, Ray juga menyampaikan bahwa Al Quds Day adalah merupakan perwujudan fitrawi manusia untuk menolak segala bentuk kolonialisasi, penjajahan dan genosida. Suaranya menggelegar memecah riuh suasana Nawaicita sore itu.

Bagi Ray, sikap untuk menantang kekejaman zionis Israel atas penjajahan yang dilakukan adalah merupakan amanah konstitusi Negara. Dimana menurutnya, sebagai warga Negara Republik Indonesia penting bagi kita untuk menengok sejarah dengan baik.

“Apa yang terjadi di Palestina tentu punya kaitan dengan Indonesia. Para founding fathers bangsa Indonesia cukup memahami, membela Palestina dari penjajahan Israel adalah komitmen dan pelaksanaan dari amanat pembukaan UUD 1945, yang termaktub dalam alinea 1 dan 4,” gema ketegasan terdengar dari aktivis muda itu.

Ray mengaku bahwa agenda Al – Quds yang digagas bersama dengan rekan – rekannya serta menggemakan perlawanan pada penjajahan cukup berasalan untuk dilaksanakan di Sulbar.

” Cukup beralasan jika kita ikut menggemakan perlawan pada penjajahan di atas muka bumi ini, sebab ini adalah amanah konstitusi,’ pungkas Ray.

Ditempat yang sama, Adhi Riadi yang didaulat sebagai koordinator Umum menjelaskan prasa “Air Mata” pada tema yang mereka pilih di momentum Al – Quds Day.

Pria yang akrab disapa Riadi ini mengatakan bahwa prasa ”Air Mata” memang tak selamanya harus dilekatkan pada duka. Sebab, kehadirannya bisa saja dilatari oleh kondisi psikologi lainnya seperti bahagia dan haru yang dialami oleh manusia. Namun, saat orang bicara Palestina maka tentu prasa “Air Mata” cukup merepresentasi atas kondisi kegetiran yang telah bertahun – tahun lamanya dirasakan oleh mereka atas kekejaman praktik kolonialisasi dan genosida oleh Zionis Israel.

“Secara fitrawi, saat kita menyaksikan praktek kolonialisasi dan genosida, selalu akan melahirkan pemberontakan sehingga itulah mengapa pada Jumat terakhir Ramadhan ditetapkan sebagai peringatan Al – Quds Day yang dimana momentum untuk menunjukkan keberpihakan kita pada nilai kemanusiaan,”tegasnya.

Dari pantauan laman ini, spanduk berukuran sederhana yang terbentang diapit oleh dua bendera yakni Bendera Merah Putih dan Bendera Palestina disana tertulis “Sulbar Menghapus Air Mata Duka Palestina” lengkap dengan tagar perlawanan.

Riadi juga menyampaikan bahwa, kelahiran Al Quds Day tentu bukan tanpa alasan. Ia telah melampau sekat – sekat agama, suku, ras, budaya, sekte atau Mazhab. Al Quds Day harus dimaknai sebagai sebuah gerakan kolektif yang dibangun di atas kesadaran universal.

Di momentum peringatan Al – Quds Day Tahun 2024 kali ini yang jatuh pada Tanggal 5 April 2024. Diberbagai belahan dunia terus digemakan semangat perlawan terhadap praktek kolonialisasi dan Genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel di tanah Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kekuatan fitrawi manusia yang tak ingin menempatkan Prasa “Air Mata” pada duka namun lebih kepada kebahagiaan,” pungkas Riadi.

Sepanjang acara berlangsung, secara bergantian mereka menyampaikan orasi perlawanan terhadap Zionis Israel atas penjajahan di Palestina dan beberapa puisi – puisi perlawanan.

Tak berselang lama, alarm petanda buka puasa berbunyi dari arah menarah Masjid Muttahida. Mereka melepas dahaga dengan takjil yang sedari awal disediakan.

Suara adzan Magrib memecah keriuhan di pantai Manakarra. Aktivitas aksi sejenak dihentikan menunggu ibadah selesai lalu ditutup dengan doa untuk para suhada di tanah Palestina.

[Rdi]

Komentar