oleh

Bapak Nini Butuh Uluran Tangan

-Sosbud-124 Pembaca

Darasaksara.comOpiniM. Fitrah Wardiman – Ia kehilangan segalanya. Kehilangan seluruh pekerjaannya. Bersamaan dengan itu, ia kehilangan harapan hidupnya.

Kondisi memprihatinkan ini dialami Nini Sambayu, pria berusia 42 tahun yang tinggal di Desa Bambaloka Kecamatan Baras, Pasangkayu. Setahun yang lalu, ia didiagnosa menderita penyakit benjolan pada usus. Akibatnya, ia sulit makan. Tubuhnya kurus kering dan perutnya mengempis kedalam.

Di gubuk rumah yang jauh dari kata mewah, Nini hanya mampu terbaring lemas. Mati tak rela, hidup pun tak mampu, kata pepatah. Kondisi kemiskinan membuatnya pasrah. Jangankan untuk berobat, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit.

Dulunya, sebelum jatuh sakit, ia bekerja sebagai tukang sumur bor. Pendapatannya tidak menentu. Namun sejak April 2019 lalu, ia tak lagi bekerja. Dapurnya tidak lagi berasap. Untuk makanan sehari-hari, ia hanya berharap bantuan dari tetangga dan orang-orang yang mengasihani.

Nini dan keluarganya pernah pontang-panting meminta bantuan kesehatan dan sosial untuk keluarga tidak mampu dari pemerintah. Namun hasilnya nihil. Keruwetan birokrasi mengurungkan niatnya.

Diceritakan pula, pria yang akrab disapa bapak Nini ini pernah menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit Undata Palu, Sulawesi Tengah. Hasil diagnosa dokter, terdapat benjolan besar pada usus. Setelah itu, ia pun enggan meneruskan pengobatan lanjutan lantaran tidak punya biaya.

Saat ini, kondisinya tak kunjung membaik. Ia membutuhkan bantuan biaya operasi senilai Rp 20 juta. Biaya operasi ini tidak saja memberikan harapan hidup pada Nini, tapi juga pada istri dan tiga orang anaknya yang masih berusia SD.

Karena itu, atas izin keluarga yang bersangkutan, penulis menggalang inisiatif mencari bantuan biaya melalui link kitabisa.com (silahkan di klik) dan juga melalui tulisan ini. Sebagai ayah dari tiga orang anak, besar harapan bapak Nini mendapat uluran tangan dari pembaca.

Saat tulisan ini dibuat, melalui seorang kenalan yang tinggal di Desa Bambaloka, penulis mencoba meminta keterangan untuk menjadi kutipan pada tulisan ini. Namun, ia masih terbaring lemas. Hanya dokumentasi foto yang berhasil didapatkan.

Komentar

News Feed