Aktivis Kohati Cabang Manakarra Kecam Pelaku Asusila Di Aralle

Darasaksara.com – Mamasa – Tindakan asusila yang dilakukan seorang pria di Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang tega menggauli anak kandungnya sendiri hingga hamil 2 bulan, mendapat kecaman dari aktivis Korps HMI – Wati Cabang Manakarra.

Pelaku yang berinisial M (44) ini, kini diamankan oleh pihak kepolisian dengan dugaan tindakan asusila yang mengakibatkan korban yang berumur 15 Tahun yang kini duduk dibangku kelas 3 SMP harus menanggung malu karena hamil selama 2 bulan, atas adanya kejadian ini dinilai cukup memprihatinkan dan pelaku harus segera mendapat hukuman yang setimpal.

Hal tersebut disampaikan oleh Aktivis Perempuan Korps HMI – Wati (Kohati) Cabang Manakarra, St. Ramlah Syahrir kepada laman ini Selasa,…..

” Kasus ini sangatlah memprihatinkan, sebab mengapa yang seharusnya rumah adalah tempat teraman bagi seorang anak perempuan, justru menjadi tempat terjadinya asusila yang tidak seharusnya terjadi,” kata Ramlah.

Menurutnya, seorang ayah yang normal tentu tidak akan bernafsu melihat anak perempuannya, karena ia adalah darah dagingnya sendiri. Seorang ayah seharusnya memelihara dan melindungi anak perempuannya, namun ini justru dirusak dan dihancurkan masa depannya oleh ayahnya sendiri.

Dirinya menilai bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban tentu tidaklah dibenarkan dan tidak bisa diterima.

“Jadi, perlakukan tersebut tentu tidaklah bisa kita terima dan tidak dibenarkan, baik di mata hukum dan di mata agama,” Ujar Ramlah.

Dirinya menjelaskan bahwa, atas adanya kejadian tersebut, disinilah peran lapisan masyarakat,tokoh agama, aktivis perempuan dan Pemerintah untuk hadir memberikan pemahaman pada masyarakat kita, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

“Kita ketahui bersama, tentu korban akan mengalami trauma, belum lagi dengan kondisi usia yang masih terbilang dibawah umur, akan sangat berpengaruh pada kondisi psikologi anak tersebut,”imbuhnya.

Dari berbagai rentetan peristiwa kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, Ramlah justru khawatir bahwa Sulawesi Barat ini sudah sangat darurat kekerasan seks pada perempuan dan anak.

“Saya rasa, dari berbagai peristiwa asusila yang terjadi di Daerah kita, dimana tindakan asusila yang korbannya rata – rata perempuan dan anak, kita justru khawatir Sulbar ini sudah sangat darurat kekerasan seks pada perempuan dan anak, sehingga butuh perhatian serius dari semua elemen yang ada,” terang Ramlah.

Ditanya apa yang menjadi harapan serta dorongan pada kejadian yang ada di Kabupaten Mamasa tersebut, pihaknya menginkan agar penegak hukum bisa mengambil langkah yang objektif demi tegaknya keadilan.

“Ya kita menginkan penegak hukum harus betul – betul objektif dalam penegakan hukum, sekalipun pelakunya adalah ayah kandung dari korban tentu dia harus mendapat hukuman yang setimpal,” harapnya.

Selain itu, aktivis Kohati ini mendorong adanya pendampingan pada korban berupa lembaga yang bergerak dalam bidang perlindungan anak dan perempuan yang memiliki legal standing.

Semestinya sudah ada lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak dan perempuan yang memiliki legal standing untuk mendampingi korban, dimana korban saat ini harus bisa dipastikan dia mendapat pengawalan secara hukum terlebih pemulihan psikologi,” kunci Ramlah.

[AR]

Komentar