oleh

Andi Bau Akram Dai : 481 Tahun Mamuju, Menjaga Marwah Kebudayaan Di Tengah Arus Moderenisme

-Mamuju, Sosbud-106 Pembaca

Darasalsara.com – Mamuju – Terhitung dua hari sebelum peringatan hari jadi Mamuju yang ke -481 tahun, tepatnya 12 Juli 2021, laman ini memutuskan untuk menyambangi kediaman  putra Maradika (Raja) Mamuju, H. Andi Bau Akram Dai yang terletak di Jalan Yosudarso Mamuju. Tujuannya tak lain adalah membangun diskusi sederhana tentang usia Mamuju yang kini sudah terbilang matang.

Pue Akram, sapaan akrab  masyarakat Mamuju pada sosok putra mahkota kerajaan Mamuju ini, menerima kami dengan penuh kekerabatan di kediamannya pada Senin malam. Ia terlihat masih mengenakan pakaian Dinas saat mempersilahkan kami duduk di ruang tamunya. Mungkin saja ia baru saja pulang dari tempat kerjanya yang ada di Rangas sana.

Tak selang lama, Bau Akram mulai menyapa kami dengan menanyakan kabar.

Apa kareba inne Andi,” katanya dalam bahasa Mamuju.

Alhamdulillah Pue, kareba Maccoa,” jawabku spontan.

Setelah memastikan kondisi perasaan putra almarhum H. Andi Maksum Dai ini presh, dengan pertimbangan bahwa ia baru saja selesai menunaikan shalat Magrib. Saya memulai membuka diskusi ringan seputar jelang hari jadi Mamuju yang ke – 481 Tahun.

Tabeq Pue, jelang 481 Tahun Mamuju, ini adalah usia yang cukup matang. Sebagai tokoh sekaligus putra mahkota kerajaan  Mamuju, tentu kita punya harapan besar demi kemajuan Daerah ini kedepan, kira – kira apa harapan itu ?

Baru – baru ini, kita dilanda dua bencana, yakni bencana sosial dan bencana alam. Bencana sosial itu adalah covid -19 sementara bencana alam, gempa bumi yang terjadi. Dari hal ini, tentu kita berharap masyarakat Mamuju dapat bangkit dari bencana yang terjadi, kita juga berharap, masyarakat tidak trauma dengan keaadaan saat ini,” jelas Bau Akram Dai.

Bau Akram mengaku bahwa, Mamuju ini adalah Daerah yang penduduknya cukup heterogen. Sehingga tentu upaya menjaga persatuan dan kesatuan harus senantiasa mengkristal dalam diri kita semua.

” Menyambut hari Jadi Mamuju yang ke 481, dimana kita sudah dikategorikan sebagai Indonesia mini, didalamnya terdapat suku, agama, ras dan golongan. Kita ini heterogen, semuanya ada disini.Sehingga tentu kita harus tetap menjunjung tinggi rasa persaudaraan, agar Mamuju ini menjadi daerah yang nyaman untuk ditinggali, aman dan tentram,” harapnya.

Tak hanya itu, adat istiadat dan nilai – nilai luhur kebudayaan tak absen dari perhatiannya pada diskusi sederhana kali ini.Menurutnya, adat istiadat dan kebudayaan yang ada di Mamuju tentu harus tetap terpelihara.

” Kita harus jaga dengan baik adat dan nilai kebudayaan kita berdasarkan adiluhung serta warisan dari para leluhur sampai kapanpun,” katanya.

Disela – sela perbincangan santai itu, pria yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Barat ini tak lupa melecut kaum muda melalui satu Falsafah di Mamuju yakni ” Punnaq Muinungmo Wai Randanna To Mamuju, To Mamuju Moko Ittu,” . Jika dimaknai secara bebas, maka akan bermakna Jika sudah meminum air orang Mamuju, maka secara otomatis anda akan menjadi  bagian dari orang Mamuju.

Falsafah diatas, bagi Bau Akram Dai, tentu harus senantiasa berurat berakar pada diri generasi muda yang ada di Mamuju. Keterlibatan generasi muda juga sangat urgen, karena itu juga bagian dari Mamuju itu sendiri. Sehingga kita punya rasa kecintaan terhadap daerah ini.

” Kita cukup kaya, termasuk pada sumber daya alam kita yang berlimpah ruah, tanahnya yang begitu subur yang semestinya kita jaga bersama – sama,” imbuhnya.

Saat ditanya soal sinergi Pemerintah dengan pemangku adat , dirinya mengaku tentu kedepan harus senantiasa dapat berjalan beriringan dan saling memberi kontribusi.

Adat dan budaya yang ada di Mamuju, tentu akan senantiasa sejalan dengan Pemerintah, kita juga akan ikut membantu Pemerintah dalam menjalankan roda Pemerintahannya. Karena yang utama harus dilakukan adalah bagaimana mensejahterakan masyarakat serta mencerdaskan rakyatnya itu sendiri,” tegas Bau Akram Dai.

Usai menjelaskan terkait sinergi antara pemangku adat dan Pemerintah, saya kembali meminta pendapatnya terkait eksistensi kebudayaan di tengah arus moderenisme saat ini.

Bagaimana menurutta Pue tentang eksistensi kebudayaan kita di tengah arus moderenisme saat ini ?

Dengan spontan putra mahkota kerajaan Mamuju ini menyebut bahwa, di tengah arus moderenitas, tentu upaya menjaga kearifan lokal dan warisan budaya yang diturunkan para leluhur kita, seperti bahasa, kesenian serta ritual – ritual yang dilakukan oleh orang tua terdahulu harus tetap ada. Bahkan menurutnya, semua program Pemerintah baik Provinsi dan Kabupaten semestinya mengarah pada penguatan kebudayaan sebagai upaya untuk membendung kebudayaan yang ada dari luar.

“Arus moderenisme tentu tak dapat kita pungkiri, tinggal bagaimana kita bisa menjaga marwah budaya kita untuk tetap eksis, dan itu adalah tugas kita semua, termasuk keterlibatan para generasi muda didalamnya,” ungkapnya.

Lebih jauh, Bau Akram menjelaskan bahwa kita harus memberi support kepada generasi muda, memberikan edukasi terutama hal yang berkaitan dengan penguatan kebudayaan seperti kesenian dan bahasa yang kini mulai tergeser oleh zaman dan tergeser dengan kebudayaan dari luar.

Saat ditanya dengan cara apa kita mempertahankan nilai – nilai luhur kebudayaan yang kini mulai tergeser ?

Dengan penuh optimisme, ia menjawab, Jasmerah dinda.

” Jangan sampai kita melupakan sejarah. Republik ini ada, karena itu perjuangan orang – orang terdahulu, para raja dan sultan di Nusantara terkhusus di Mamuju ini. Mereka yang merajut sehingga segala sesuatu itu ada,” katanya.

Dia menambahkan bahwa semestinya, kita harus mampu menjadikan budaya kita sebagai filter. Berbagai adat istiadat dan ritual yang ada di Mamuju ini jangan sampai hilang.

Diakhir perbincangan, Bau Akram menitip pesan, dimana kita butuh saling mengingatkan tentang nilai kearifan lokal kita, agar ia bisa menjadi filter atas masuknya produk kebudayaan lain yang sengaja akan mendistorsi nilai – nilai yang ada, serta bisa menjadi tameng, penjaga.

Agama, Adat dan Pemerintahan akan selalu menyatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam budaya Nusantara, budaya Mamuju agar daerah kita bisa dikategorikan sebagai Negeri Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkas Bau Akram Dai sembari mempersilahkan kami menyeduh kopi hangat yang sedari tadi ada diatas meja diawal diskusi ini.

Ar.

Komentar

News Feed