oleh

Antropologi Kognitif Dalam Persfektif Ward Hunt Goodde Nough

-Opini-203 Pembaca

Darasaksara.comOpiniAdhi Riadi

Memulai catatan ini, kami ingin mengajak pembaca yang budiman mengenali terlebih dahulu siapa itu Ward Hunt Goodde Nough ?
Jadi, Ward Hunt Goodde Nough adalah salah seorang ahli linguistik yang juga tertarik pada kebudayaan. Ia banyak melakukan kajian linguistik sekira Tahun 1950.
Goodde Nough lahir di Amerika Serikat pada Tahun 1919 dan meninggal di Tahun 2013, gelar doctoralnya didapat di Yale University Amerika Serikat.Termasuk perjalanan intelektual dalam bidang ilmu Antropologi Kognitif.
Kali ini, kita akan mencoba menyelami secara sederhana Persfektif Goodde Nough dalam melihat setiap realitas kebudayaan yang ada pada manusia melalui sudut pandang Antropologi Kognitif.
Dalam Antropologi Kognitif, kita akan sampai pada sebuah bangunan pemikiran bahwa kebudayaan adalah merupakan bagian dari kognisi manusia, yang dimana bagaimana pelaku budaya dalam hal ini manusia dapat memahami dan memaknai benda, kejadian atau setiap peristiwa dalam kehidupannya. Disini dapat kita melihat bahwa, jika sudah berbicara persoalan memaknai tentu akan berkenaan dengan kognisi manusia.
Dari bangunan pengetahuan diatas dalam memandang kebudayaan, kita bisa melihat Goodde Nough tidak begitu menghabiskan konsentrasinya pada aspek material kebudayaan semata, namun, lebih dari itu ia lebih kepada upaya mengungkap makna dan fikiran yang terdapat pada material kebudayaan.
Konstruksi Dasar Antropologi Kognitif
Kelahiran antropologi kognitif tentu bukan tanpa alasan, dimana ini merupakan sebuah upaya agar antropologi tidak terjebak pada ruang apa yang disebut etnosentrisme. Secara sederhana, etnosentrisme ini adalah proses memandang kebudayaan seseorang dari budaya kita sendiri. Seperti memandang kebudayaan Bugis dengan menggunakan kaca mata kebudayaan Jawa. Sehingga lahirnya antropologi kognitif tentu untuk menghindari terjadinya distorsi etnosentrime dalam melihat individu dan masyarakat tertentu.
Disadari atau tidak, kerap kali kita mencoba menyelami kebudayaan daerah tertentu dalam persfektif daerah kita, sehingga tentu akan menimbulkan keberpihakan, sementara satu daerah yang memiliki budayanya sendiri akan merasa tidak adil. Hal lain adalah implikasi dari cara berfikir yang dilandasi dengan etnosentrisme ini adalah akan memandang rendah budaya orang lain, menganggap rendah individu dan masyarakat lain. Inilah kemudian mengapa antropologi kognitif lebih kepada memandang kebudayaan melalui kognisi subjek yang dicari, sehingga dalam memperlakukan individu dan masyarakat sebagai subjek, karena dia yang memiliki fikiran dan orientasi kebudayaannya sendiri, sehingga para antropolog menilai suatu kebudayaan berdasarkan fikiran si subjek, bukan fikiran kita. Jadi, antropologi Kognitif begitu dekat dengan pandangan bahwa kubudayaan itu berisi fikiran, mood, perasaan, keyakinan dan nilai.
Kajian Antropologi Kognitif
Goodde Nough memandang bahwa kebudayaan bukanlah fenomena material semata, bukan bentuk – bentuk luar dari kebudayaan. Seperti berupa benda dan perilaku, akan tetapi apa yang tersimpan dibalik benda dan perilaku, kita tak boleh hanya sebatas melihat benda dan prilaku, tetapi lebih kepada moodnya dan kogniti dibalik benda. Sehingga yang disorot adalah bukan fenomena luar semata, namun yang terdalam dari kebudayaan itu sendiri, yang harus menjadi locus adalah bahasa kebudayaan dan kognisi manusia.
Timbul suatu pertanyaan, kenapa kemudian ada bahasa dalam memahami suatu aspek kebudayaan tertentu ? hal ini dikarenakan kita tidak mungkin secara langsung dapat mengkaji fikiran seseorang, sehingga melalui bahasa dan prilaku, fikiran itu diungkapkan. Untuk itu, objek dari antropologi kognitif adalah bahasa kebudayaan dan kognisi, yakni bagaimana manusia sebagai pelaku budaya memandang benda, memperlakukan benda dan memaknai benda. Sehingga, individu dan masyarakat dapat memaknai dunianya sendiri.
Analisis Antropologi Kognitif
Hal utama yang menjadi analisis Antropologi Kognitif adalah bahasa. Dimana, pemahaman terhadap orentasi budaya individu dan masyarakat dapat dianalisis melalui bahan – bahan linguistik, karena disitu fikiran tersimpan dan diungkapkan. Termasuk berkenaan dengan personality individu (berkenaan tentang psikologi) dalam mengekspresikan diri, emosi dan fikirannya (ekspresi personaliti).
Jika kita membuat suatu skema dalam Antropologi Kognitif, maka akan kita akan sampai pada dua bagian yaitu bahasa sebagai bahan menta kebudayaan dan kebudayaan adalah kognisi manusia.
Bahasa sebagai bahan menta kebudayaan artinya, kemunculan setiap kebudayaan material dalam kehidupan manusia, tentu didahului oleh lahirnya sebuah persepsi, naluri, fikiran manusia yang dapat dilihat dari bahasa mereka, bahasa juga tentu menjadi jembatan untuk mengetahui fikiran, kebudayaan manusia sebagai sebuah sistem kognisi. Jadi, benda kebudayaan hadir didahului oleh sistem fikiran. Itulah mengapa dalam melihat setiap kebudayaan fikiran dulu yang harus menjadi locus melalui bahan menta kebudayaan yakni bahasa.Sehingga kita bisa mengatakan bahwa bahasa dan benda adalah merupakan ruh material untuk melihat suatu kebudayaan.
Pada sisi yang lain, ada kebudayaan yang merupakan kognisi manusia, yang artinya seluruh kebudayaan material yang dihasilkan manusia, merupakan akibat dari kemampuan fikiran manusia dalam berkreasi, yang termanifestasi dalam bentuk cultural dan personality. Kita bisa melihat satu contoh misalnya, dalam kosa kata Mandar yang berkaitan dengan kebudayaan Mandar itu sendiri dalam hal konsepsi moralitas Mandar yaitu : Mua’ Murundu wainna Mandar, To Mandar Mo’o Tu’u (Jika sudah meminum airnya Mandar, maka kamu sudah jadi orang Mandar)
Diktum tersebut diatas  adalah merupakan sebuah konsepsi dibalik bahasa, ini merupakan sebuah fikiran tentang nilai moralitas secara yang dilekatkan pada personal seseorang meski ia tak lahir di Mandar, namun telah mempraktekkan nilai – nilai dan norma ke – Mandaran itu sendiri. Hal lain adalah lewat bahasa tersebut diatas, kita bisa menangkap bahwa ketika disebut To Mandar Mo’ Tu’u (Jadi Orang Mandalah Kamu) secara personality sebenarnya telah dikaitkan dengan moralitas kelompok, moralitas masyarakat yang lebih luas.
Ungkapan seperti yang penulis sampaikan diatas, maka tentu mengantarkan kita pada makna – makna besar dibalik suatu bahasa kebudayaan, mengantarkan pada kognisi besar apa yang dimaksud orang mandar dengan beragam istilahnya.
Bagaimana Penelitian Antropologi Kognitif Dilakukan ?
Untuk memulai ini, tentu kita harus melihat cara pandang Antropologi Kognitif, dimana kita akan melihat bahasa, budaya dan kepribadian. Budaya dalam konteks tertentu, lalu yang akan menjadi objek analisis adalah kosa kata dan karakteristik manusia, dimana kosa kata ini mengandung makna apa di baliknya, termasuk analisis karakter manusianya, disitulah kita bisa menemukan perubahan kebudayaan seperti apa ? karena tentu kita tidak akan bisa langsung memahi fikiran manusia tanpa melalui ekplorasi dari bahasanya.
Telah kita pahami bahwa kosa kata itu mengandung fikiran – fikiran tertentu yang ada dibaliknya, karena itu, ada banyak bahasa daerah yang ketika ditarik kedalam bahasa Indonesia akan kehilangan makna orisinilitas dalam konteks kebudayaan asal. Alasannya adalah, karena bahasa memiliki komsumsi makna ril dan imajinasi kebudayaannya sendiri pada masyarakat yang menggunakannya.
Bagaimana Meneliti & Menggunakan Antropologi Kognitif ?
Dalam meneliti dan menggunakan Antropologi Kognitif tentu kita harus membaca literatur dari hasil penelitian sebelumnya termasuk literatur umum, berupaya mengumpulkan data umum seperti statistik serta dokumen yang menggambarkan daerah yang akan kita teliti serta mengenali informan kunci yang memahami budaya daerah tersebut.
Informan kunci ini begitu sangat penting, karena ia bisa memberikan pertimbangan referensi gender, baik laki – laki mau pun perempuan, mempertimbangkan referensi ketokohan, ketokohan agama yang menjadi locus daerah yang akan kita teliti.
Goodde Nough juga menyebut bahwa Antropologi Kognitif seharusnya dilakukan upaya mengasa kepekaan terhadap berbagai jenis perbuatan sebagai kerangka interpretasi pada suatu kebudayaan masyarakat yang akan kita kaji, seperti misalnya kita harus memahami simbol – simbol dalam masyarakat tertentu, seperti Budaya Tabe’ jika harus melintas didepan orang tua atau sesama manusia dalam budaya Mandar pada umumnya, ini berarti sebagai penghormatan dan penghargaan.
Kedipan mata pun perlu dipahami, sebab ada perbedaan kedipan bernuansa genit atau ada simbol – simbol tertentu yang bisa saja menjadi ciri khas daerah tersebut. Selain itu, kita juga harus peka terhadap prilaku masyarakat, kata kunci, pribahasa, perumpamaan, polklor (cerita rakyat) bahkan gosip yang berkembang dalam masyarakat tertentu. Karena aspek bahasa inilah yang akan menjadi pintu masuk untuk mengetahui fikiran masyarakat. Hal ini dilakukan untuk agar kita dapat menginterpretasi pada suatu kebudayaan masyarakat yang kita teliti.
Agama Dalam Persfektif Antropologi Kognitif.
Jika kita melihat dalam ruang Sosiologi Antropologi, agama diletakkan sebagai bagian dari budaya manusia. Hal ini disebabkan sebuah cara berfikir bahwa tidak mungkin kita tidak berkebudayaan. Agama merupakan praktek kebudayaan, sehingga dalam konteks ini, agama dilihat atau diletakkan sebagai fikiran, mood, perasaan, keyakinan dan sebuah nilai.
Jika kita menelaah secara seksama, agama tidak dilihat sebagai sebuah tindakan semata, bukan dari aspek materialnya sepeti gedung Gereja, Masjid, Totem ( Durhaim), namun, agama dalam konteks ini sebagai sebuah sistem fikiran, sistem pengetahuan yang menciptakan tindakan dan material – material kebudayaan. Jadi, material simbol agama itu didahului oleh sistem berfikir, sistem nilai dan sistem keyakinan. Alasannya adalah karena material kebudayaan akibat dari sistem berfikir.
Sehingga kita dapat menarik suatu kesimpulan, agama dalam teori antropologi kognitif ia adalah word view (pandangan dunia), sebuah konsepsi tentang dunia dan gagasan tatanan sosial. Dalam hal ini, kita akan berbicara pada ruang bahasa agama adalah objek utama. Seperti misanya kita menganalisis kata ” Hijrah ” yang memiliki makna luas seperti makna moralitas, sistem tertentu yang digunakan bahkan sampai pada sistem spritulitas seperti kata ” Islam Kaffa” dimana ini merupakan fikiran tertentu dalam meneliti komunitas agama tertentu dari aspek linguistik, cerita, kisah yang menggambarkan budaya agama masyarakat tertentu.
Hal itu dapat dilihat seperti kisah kenabian dan Al-Qur’an. Kesemuanya ini dapat dilihat aspek kognisi yang melar belakanginya yang menggambarkan budaya agama di masyarakat yang kita teliti.
Kita telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa antropologi kognitif tidak hanya bekerja dalam konteks kebudayaan tertentu yang sifatnya perilaku, namun lebih dari itu setiap prilaku agama harus diselami pada pendekatan kognisi manusia.
Catatan ini tentu tidaklah merefresentasi semua bangunan berfikir Goodde Nough, namun setidaknya penulis mengajak untuk bisa melakukan upaya menyelami Persfektif antropolog asal Amerika ini dalam memahami setiap kebudayaan yang ada di tiap – tiap daerah.
Polewali Mandar , 19 Maret 2021.

Komentar

News Feed