oleh

Celebes Bergerak Nilai Penanganan Bencana di Sulbar Berjalan Lambat

-Mamuju-158 Pembaca

Darasaksara.comSulbar – Manager Advokasi dan Kampanye Celebes Bergerak, Freddy Onora, menyebut peranan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju dalam penanganan bencana di masa tanggap darurat ini terkesan sangat lamban.

Pasalnya, berdasarkan hasil Indepth Assessment yang dilakukan oleh Tim Celebes Bergerak, di Desa Boteng Utara, Desa Boteng Induk, Kec. Simboro dan Desa Rantedoda, Kec. Tapalang sebagai sampel, menunjukkan pemenuhan hak dasar penyintas belum tersentuh secara menyeluruh oleh Pemkab.

“Kami menilai peran Pemkab di masa tanggap darurat ini sangat lambat. Beberapa titik yang kami lakukan indepth assessment ternyata belum tersentuh (Pemerintah), padahal sudah lebih dua minggu pasca gempa.” Kritiknya.

Pemenuhan kebutuhan logistik pengungsian yang kurang mencukupi, shelter yang kurang layak, tidak tersedianya pelayanan kesehatan, ketersediaan air bersih, kondisi sanitasi ditambah cuaca yang belakangan kurang bersahabat membuat kondisi kian sulit di kamp-kamp pengungsian. Hal-hal tersebut yang menjadi sorotan utama Celebes Bergerak selaku lembaga yang selama ini konsen melakukan advokasi kebencanaan.

Menurut Freddy, hal-hal tersebut akan lebih mudah teratasi jika Pemkab lebih berperan aktif dalam hal pemenuhan hak dasar sesuai dengan yang diamanatkan Undang-Undang (UU) Penanggulangan Bencana.

“Pemda harus sama aktifnya, dengan lembaga maupun relawan yang saat ini melakukan intervensi mandiri terhadap penyintas di kamp pengungsian. Kalau merujuk Pasal 8, UU No. 24 Tahun 2007, Pemda bertanggung jawab terkait pemenuhan hak dasar sesuai dengan standar pelayanan minimum.”

Berkaca dari pengalaman penanganan pasca bencana Gempa, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah, Celebes Bergerak juga mendorong agar Pemda Sulbar mengutamakan prinsip transparansi dan partisipasi dalam penanganan pasca bencana. Selain itu, Pusat Data dan Informasi Bencana (Pusdatina) satu pintu, sangat mendesak untuk segera dibangun agar kejadian anomali data penyintas bisa diminimalisir.

“Saat ini, sebaiknya segera ada Pusdatina satu pintu untuk menghindari anomali data penyintas di kemudian hari. Biasanya, setelah bencana, masing-masing lembaga bekerja mendata sendiri-sendiri. Yang tak kalah penting, pemerintah musti transparan dan melibatkan partisipasi semua pihak.” Ujar Freddy.

Sebelumnya, selain melakukan assessment Celebes Bergerak juga telah melakukan penyaluran logistik bantuan di beberapa titik pengungsian dan dari hasil assement yang diperoleh akan kembali melakukan penyaluran bantuan tahap berikutnya.

Darasaksara.com

Komentar

News Feed