Direktur RS Regional Sulbar, Bantah Dugaan Kolusi Pada Pengadaan Alkes & Bunker Linac

Kesehatan141 Pembaca

Darasaksara.com – MAMUJU –Pengadaan Alat Kesehatan (alkes) dan Bunker Linac di Rumah Sakit Regional Provinsi Sulawesi Barat yang dimulai dari tahun 2022, saat ini mendapat sorotan dari Mahasiswa.

Beberapa dugaan yang kemudian dialamatkan pada Rumah Sakit Regional Sulbar. Diantaranya dugaan kolusi pada pengadaan alat kesehatan (Alkes) dan Bunker Linac, Alat Kesehatan (Alkes) yang dipesan melalui E-Catalog diduga tidak memenuhi standar yang ditentukan sesuai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), klasifikasi TKD dan TKL serta hal lainnya.

Menanggapi hal itu, Direktur Rumah Sakit Regional Sulawesi Barat, dr. Hj. Marintani Erna Dochri saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa 29 Agustus membantah sejumlah tudingan tersebut.

“Sebelum kami dilantik sebagai direktur Rumah Sakit Regional Sulbar, perencanaan sudah berjalan dan kami dilantik pada bulan Februari 2023,” kata Marintani Erna Dochri.

Lebih jauh dia menjelaskan bahwa,pengadaan tersebut sumber pendanaannya dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan E – Catalog, sehingga tidak ada unsur kolusi di dalamnya.

Semua pengadaan tersebut adalah merupakan usulan user yang kemudian ditetapkan pada bagian perencanaan, dan direktur sebelumnya, meneruskan sesuai anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diberikan yang juga sudah melalui proses Desk,” ungkap Marintani.

Sementara, terkait dugaan bahwa alkes yang dipesan melalui E-Catalog tidak memenuhi standar yang ditentukan sesuai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), klasifikasi TKD dan TKL-nya, dr. Marintani secara tegas kembali membatah hal tersebut.

“Itu tidak mungkin, karena ada
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Inspektorat, Kantor Akuntan Publik (KAP) yang akan memeriksa Rumah Sakit, sehingga tidak akan pernah keluar dari aturan,” tegasnya.

Ditanya soal adanya indikasi perusahaan penyedia yang berkontribusi dalam penyediaan alkes tersebut mempunyai hubungan dangan pihak user ?, pihaknya mengaku tidak memiliki kapasitas untuk menjawab.

“Soal itu kami tidak punya kapasitas menjawab, itu ranahnya bidang perencanaan, setahu kami user itu adalah mereka yang ahli,” ujar dr.Marintani.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Rumah Sakit Regional Sulbar ini pun membantah bahwa pembangunan Bunker yang disebut – sebut tidak memiliki dokumen analisis dampak lingkungan (ANDAL), termasuk tudingan bahwa alkes sudah terlebih dahulu ada sebelum pembangunan Bunker.

“Itu sangat salah, sebab kami memiliki dokumen analisis dampak lingkungan (ANDAL). Dan perlu dipahami, alkes tidak akan mungkin ada jika Bunker tidak ada, sebab alat juga akan berfungsi jika sudah memiliki Bunker,” ungkap dr.Marintani.

Atas sorotan yang dialamatkan pada pengadaan Alkes dan Bunker Linac di Rumah Sakit Regional Sulbar pada tahun 2022, dr. Marintani mengaku bahwa sebelum dirinya menjadi direktur, kegiatan tersebut sudah berjalan.

“Sebenarnya mengenai hal ini, sebelum kami jadi direktur kegiatan ini sudah berjalan, bahkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)-nya sudah jadi,” kunci dr.Marintani.

[Nur]

Komentar