Dugaan Persetubuhan Anak Di Bawah Umur Kembali Terjadi, Pendamping Korban Minta Polresta Mamuju Bertindak Tegas 

Darasaksra.comMamuju – Dugaan persetubuhan anak di bawah umur kembali terjadi di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Hal itu terungkap, saat salah seorang dosen bernama Rhena yang saat ini mendampingi korban melaporkan dugaan tindak pidana persetubuhan anak di bawah umur pada 27 Februari 2024 lalu.

Kepada laman ini, Rhena membenarkan bahwa pihaknya telah memasukkan laporan ke Polresta Mamuju pada 27 Februari 2024.

“Ia benar, kami sudah melaporkan dugaan persetubuhan yang dialami oleh dua orang korban yang masih di bawah umur ke Polresta Mamuju dan saat ini kami masih menyimpan bukti Surat Tanda Terima Laporan Polisi dengan Nomor : STTLP/B/34/II/2024/SPKT/RESTA MAMUJU/SULBAR Tanggal 27 Februari 2024,’’ kata Rhena via WhatsApp, Kamis 14 Maret 2024.

Lebih jauh, Rhena menceritakan kronologi kejadian dugaan persetubuhan pada dua anak di bawah umur yang menjadi korban, masing – masing berinisial N (12) dan A (12).

Rhena menjelaskan, pada tanggal 25 Februari 2024 malam,terjadi dugaan persetubuhan anak di bawah umur di dua tempat yang berbeda yakni tepatnya di King De Boor Belakang Rumah Sakit Umum Kabupaten Mamuju dan Stadion Manakarra.

Lalu, tanggal 26 Februari 2024 pagi, kedua korban belum menceritakan atas apa yang dialaminya dengan alasan kondisi psikis belum stabil dan merasa takut pada kedua orang tuanya.

Kejadian ini terungkap saat salah seorang keluarga korban mulai curiga atas kondisi psikis yang terlihat pada keduanya. Ia kemudian meminta untuk menceritakan atas apa yang dialami dan disitulah korban mengaku telah mengalami persetubuhan oleh dua orang pelaku atas nama Nurman dan Rudi.

Rhena mengaku, dua hari pasca laporannya masuk ke Polresta Mamuju, pihaknya kembali mempertanyakan progres atau perkembangan dari dugaan kasus tersebut dan baru kemudian kedua korban dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan.

“Dua hari setelah laporan masuk ke Polresta Mamuju, kami kembali melakukan presure untuk mempertanyakan. Dan setelah itu, baru ada upaya pemeriksaan pada dua korban,’’ kata Rhena.

Menurutnya, atas adanya laporan dugaan persetubuhan anak di bawah umur yang sudah dimasukkan ke Polresta Mamuju, kedua terduga pelaku sudah seharusnya diamankan, karena keluarga korban sangat merasa resah dan khawatir.

Selain itu, Rhena menyebut bahwa pihaknya telah memiliki bukti berupa hasil visum dan percakapan antara pelaku dan saksi melalui WhatsApp. Dimana, dalam percakapan tersebut pelaku mengakui bahwa telah melakukan persetubuhan dengan korban.

Lebih jauh Rhena membeberkan bahwa saat ini pelaku meminta dimediasi dengan keluarga korban, sementara keluarga korban tidak menginginkan adanya proses mediasi sebelum ada proses hukum.

“Kasus ini tentu tak boleh dianggap remeh, apalagi korbannya masih di bawah umur dan pelaku belum di amankan oleh pihak Kepolisian. Sehingga kita berharap kepada aparat kepolisian yang sudah menerima laporan untuk bertindak tegas.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya untuk melakukan konfirmasi kepada penyidik yang menangani kasus ini via WhatsApp belum membuahkan hasil.

[fai/rdi]

Komentar