oleh

Gempa Magnitudo 6,2 Melanda Malunda Jumat,15 Januari 2021 Terlalu sedih untuk dikenang

-Opini-180 Pembaca

Darasaksara.comOpini – (Yudi Sudirman) – Hari Kamis, saat itu cuaca cukup cerah, saya yang sebelumnya berencana mau ke kota Mamuju, tiba-tiba urung berangkat karena terlalu lama berbincang dengan Pak Lurah Malunda diruang kerjanya hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 Wita.

Pulang dari kantor Lurah, saya langsung kembali kerumah setelah memutuskan untuk menunda ke Mamuju.

Selesai makan siang, selanjutnya istirahat sejenak sembari menunggu waktu shalat zhuhur, karena dari kejauhan terdengar selawat tarhim sebagai penanda bahwa azan sebentar lagi berkumandang.

Setelah sembahyang,saya istirahat dengan duduk diteras rumah yang sederhana ini, sembari membaca beberapa berita yang berseliweran diatas layar telepon pintarku.

Tidak berselang lama, sekira pukul 13.30 Wita, saya menerima telpon dari salah seorang keluarga, baru sepuluh menit kami asik dalam obrolan tiba-tiba guncangan hebat datang.

Rumah serasa mau roboh, permukaan tanah depan rumah saya lihat bergelombang, saya mau turun takut tangganya ikut tumbang, saya hanya bisa pasrah sembari berpegang ditiang tengah dengan repleks mengumandangkan kalimat takbir
” Allahu Akbar,..Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Begitu guncangannya redah saya langsung menuruni anak tangga dan masuk dalam kamar, Kulihat istri dan kedua anakku berpelukan dalam ketakutan, sementara anak perempuanku tidak ada dalam kamar ini.

Tanpa berpikir panjang, saya suruh semua keluar dan masuk kedalam mobil, entah dari mana datangnya anak perempuanku juga sudah muncul. Begitu saya anggap lengkap,saya langsung tancap gas.
sehingga guncangan susulan yang menurut semua orang, datang dalam interval waktu yang tidak berselang lama,saya sudah tidak rasakan, karena sudah berada diatas mobil yang sementara berjalan.

Dalam perjalanan menuju bukit yang jaraknya sekira 400 meter, kulihat orang berhamburan keluar dibahu jalan rabat beton yang menghubungkan Lingkungan Banua,Galung dan Bukit Pomolimbo.

Tidak sampai 10 menit, saya sudah sampai dibukit, dan langsung memarkir kendaraan. begitu turun dari mobil, baru saya sadar kalau anak bungsuku yang baru berumur sepuluh bulan tidak ikut dalam rombongan. dia digendong kakak sepupunya saat ibunya sempat lemas ketika baru keluar dari dalam rumah.
Adikku yang juga baru sampai bersama istri dan anaknya, saya suruh kembali untuk segera menjemputnya.

Hujan deras mulai turun, dengan sigap tenda terpal bekas penjemuran gabah milik warga yang bermukim disekitar bukit, langsung terpasang.

Tidak sampai setengah jam saya berada dibukit, warga yang lain dari berbagai lingkungan pun berdatangan. seketika bukit Pomolimbo mendadak ramai layaknya hari pasar. mereka berkelompok secara alami dengan rombongan keluarga atau tetangga masing-masing.

Di Pomolimbo, saya sempat ketemu dengan Baharuddin, salah satu korban yang tertimpa reruntuhan rumahnya pada guncangan dini hari.

Bapak paruh baya ini semasa hidupnya cukup akrab dengan saya, tak jarang kami sering bercanda setiap kali bertemu.

Dia juga lari menyelamatkan diri kebukit ini, bahkan dia sempat bertanya sama saya tentang dimana pusatnya gempa.

Saya hanya menggelengkan kepala dan berkata bahwa saya juga tidak tahu, karena tidak bisa memonitor melalui handphone yang saat itu sedang mengalami gangguan jaringan.

Ternyata pada sore hari itu merupakan pertemuan terakhir dengannya, setelah pada esoknya terdengar kabar bahwa dia sudah meninggal dunia.

Di Bukit Pomolimbo ini, saya bertahan hingga pukul 17.30. Wita, jelang magrib baru pulang kembali kerumah.

Ba’da magrib, masih dalam keadaan was-was, kami memanfaatkan untuk segera makan malam dengan keluarga yang lain.
Setelah itu, semua istirahat, anak-anak dan beberapa ibu-ibu tidur digarasi mobil, sementara saya dan mertua dari ponakanku, masih asik dalam obrolan sambil meneguk hangatnya kopi ditengah dinginnya suasana malam.

Sekira pukul 22.30 Wita, mata saya terasa berat dan lelah, karena seharian tidak sempat tidur siang ditambah dengan kehujanan selama di Pomolimbo, akhirnya saya merebahkan tubuh dikursi hingga tidak terasa terlelap di kolong rumah – Sapo Paccakaq.

*****

Jumat,15 Januari 2021

Dalam keadaan terlelap sekira pukul 01.20 dini hari, saya kembali dikejutkan oleh guncangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.

Rak piring menumpahkan segala isi didalamnya, gelas kopi yang sebelumnya berada diatas meja dekat kursi berhamburan.

Lampu langsung padam, membuat suasana semakin mencekam, senter yang sebelumnya saya sudah siapkan pun raib entah dimana, sehingga dalam kegelapan saya berlari keluar, mengambil anak-anak yang tidur di garasi mobil .

Saya langsung menggendong anak bungsu yang sempat saya lupa pada guncangan sebelumnya sore tadi.

Untuk yang kedua kalinya,kami berhamburan menuju bukit, namun kali ini saya tidak menggunakan kendaraan lagi, karena sudah terparkir disana bersama kendaraan lainnya, sehingga tidak bisa keluar.

Saya berlari, menuju bukit dengan menggendong anak,warga kembali menyemut menyelamatkan diri dari bahaya tsunami yang dikhawatirkan pasca guncangan.

Terlihat dari kejauhan di jalan menuju Desa Kayuangin, bak kota di malam hari.

Sesaat kemudian bukit yang saya tuju, seperti kapal yang penuh dengan penumpang.

Semua pada pasrah, tak ada yang merasa hebat.
langit yang sejak petang terlihat gelap tanpa bintang, kini menurunkan kembali hujannya, menambah suasana semakin dingin menembus tulang.

Tenda darurat yang sudah bocor sebagai tempat berlindung terpasang kembali, Ketiga anakku tidur diatas tanah yang basah beralaskan tikar seadanya.

Sementara saya tidak tidur dan memilih untuk duduk di samping mereka, menjaga air yang tertampung di atas terpal yang sekali-kali tumpah setiap kali penuh.Menggigil tubuhku dalam pelukan alam,disini aku kecil dan tak berarti.

Karikatur : Makmum Amoeng Bungsu

 

Komentar

News Feed