oleh

Ibrahim : Teladan Sepanjang Masa

-Opini-314 Pembaca

Darasaksara.comOpini – Setiap hari Idul Adha tiba, jutaan manusia dari berbagai etnik, suku dan bangsa di seluruh penjuru dunia mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai bentuk rasa syukur dan penghambaan kepada Allah swt. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi keberadaan manusia di hadapan kebesaran Allah Yang Maha Agung. Mereka berseru menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan Tuhan, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hhamda wan ni‘mata laka wal mulk la syarika laka.” Kalimat itu dilantunkan, dikumandangkan secara berjamaah. Berjuta-juta kaum muslimin dari segala penjuru dunia terhampar di Padang ‘Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima, melakukan ziarah menuju tempat-tempat suci dan bersejarah seraya mengenang teladan abadi khalilullah, kekasih Allah, Nabi Ibrahim as dan putranya Isma‘il as.

Namun di tahun ini di semua negara, Hari raya Idul Adha dilewati tanpa ritual ibadah haji, tanpa berkumpul di padang ‘Arafah, tanpa berziarah ke tempat-tempat suci akibat kebijakan penundaan pelaksanaan ibadah haji yang diumumkan langsung oleh pemerintahan Kerajaan Saudi sebagai upaya pencegahan penyebaran wabah virus covid 19 yang sedang menimpa. Saudara-saudari kita yang mampu, yang telah mendaftarkan diri dan semestinya berangkat tahun ini sebagai jamaah haji dari berbagai negara akhirnya menjadi tertunda keberangkatannya. Kita berharap, di tahun-tahun yang akan datang keadaan kembali normal, agar semua aktivitas kita kembali berjalan seperti biasa dan terkhusus ibadah haji semoga segera bisa kembali dilaksanakan. Pada tahun ini, hari raya Idul Adha kita jalani di tempat kita masing-masing dengan melaksanakan shalat id dan menyembelih binatang kurban yang akan dibagikan kepada saura-saudara kita yang berhak.

Rangkaian ibadah di hari raya Idul Adha, mulai dari ibadah haji, pelaksanaan shalat ‘id secara berjamaah dan menyembelih kurban, semuanya membawa pesan berharga yang selalu mengingatkan kita akan kebenaranan ajaran Islam yang sesuai dengan fithrah kemanusiaan kita sebagai makhluk sosial yang mesti dirawat dengan baik. Ibadah kurban mencerminkan pesan Islam bahwa kita sedang mendekatkan saudara-saudara kita yang kekurangan. Dengan berkurban kita dekat dengan mereka yang fakir. Di saat kita memiliki kenikmatan, kita didiperintahkan untuk berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Jika sebelumnya di bulan Ramadhan kita melalui ritual ibadah puasa, agar ikut merasakan lapar seperti yang dirasakan oleh orang miskin, maka melalui ibadah kurban, kita mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti yang dirasakan oleh orang yang berkecukupan. Allah swt secara tegas melarang agar kita agar tidak berbuat zalim sebagamana firman-Nya:

لاَ تَظْلِمُوْنَ وَلاَ تُظْلَمُوْنَ
Terjemahnya: Janganlah kamu berbuat zalim dan janganlah pula (bersedia) dizalimi (QS. al-Baqarah/ 2: 279)

Di dalam hadis, Rasulullah saw bersabda:

اِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَة
Artinya: Jauhilah perbuatan zalim, karena sesungguhnya zalim itu akan menimbulkan kegelapan pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi)

Salah satu kebenaran pokok dalam kehidupan adalah bahwa setiap keberhasilan senantiasa menuntut semangat pengorbanan. Tanpa semangat itu, keberhasilan atau kesuksesan adalah hal yang mustahil. Begitu agung dan mulianya semangat pengorbanan itu, sehingga nilai kebalikannya pun berbanding lurus. Betapa hinanya hidup tanpa semangat pengorbanan dan solidaritas social, yaitu hidup egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Semangat berkorban yang setinggi-tingginya dan setulus-tulusnya telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as dan anaknya Isma‘il as. Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya yang bernama Ismail, padahal Isma‘il merupakan anugerah Tuhan yang telah lama didambakan oleh Ibrahim as ketika ia telah mencapai usia lanjut dan telah lama sekali berharap mendapatkan keturunan. Namun demi perkenan dan ridha Allah, dan demi kebahagiaan yang abadi, kedua ayah dan anak itu tunduk dan patuh.

Marilah kita kembali memperhatikan sejarah yang menjadi dasar disyariatkannya hari raya qurban yang dilakukan pada hari raya haji. Peristiwa yang diabadikan di dalam Alquran berkenaan dengan kualitas iman yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim Khalilullah bersama keluarganya yang sabar dan taat pada Allah.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ * فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ * وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ * قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ * وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ * وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ * سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ * كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ *
Terjemahnya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim as, Ibrahim as berkata: “Hai anakku, Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. [102] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim as membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). [103] Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim as, [104] Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [105] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [106] dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. [107] Kami abadikan untuk Ibrahim as itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, [108] (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim as”. [109] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [110] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. [111] (QS. al-Shaffat/ 37: 102-111)

Begitulah rekaman dalam Kitab Allah tentang kisah dua insan, ayah dan anak, yang amat mengharukan; tentang dua hamba-Nya yang shaleh, dua orang Rasul yang kelak menjadi teladan suci bagi umat manusia tentang bagaimana menaati perintah Tuhan.

Sungguh luar biasa. Apakah milik manusia yang paling disayang, yang paling sulit dibayangkan untuk diberikan, yang melebihi nyawa sendiri dan anak? Harta yang kita kumpulkan dan bangga-banggakan, yang kadang sangat susah kita keluarkan untuk membantu kaum mustadhafin (yang lemah) akan menjadi sangat enteng nilainya untuk diberikan demi nyawa atau anak yang kita sayangi.

Untuk memahami konsep kepasrahan yang diraih oleh Nabi Ibrahim as bersama keluarganya, kami ajak kita semua untuk membandingkan peristiwa tersebut dengan apa yang dialami oleh Iblis la’natullahi ‘alaih yang juga terabadikan di dalam Alquran. Allah berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ * قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ * قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ *
Terjemahnya: Dan sungguh kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam.” Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. [11] Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik dari pada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” [12] Allah berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (Surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk makhluk yang hina” (QS. Al-A’raf/ 7: 12-13)

Melalui perbandingan ini, kita dapat menemukan kesamaan pada peristiwa keduanya, yaitu Ibrahim dan Iblis sama-sama mendapatkan perintah dari Allah; Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya, sementara Iblis diperintahkan untuk sujud sebagai bentuk penghormatan terhadap manusia yang diciptakan Allah.

Menghormati sesuatu yang memang pantas untuk dihormati adalah sesuatu yang wajar, normal dan memang demikianlah sikap yang semestinya kita dilakukan. Tetapi menyembelih satu-satunya anak yang sangat disayangi, keturunan yang telah bertahun-tahun lamanya diminta dan diharap-harapkan pada Allah adalah sesuatu yang sangat beresiko. Sebab kita akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam kehidupan. Artinya perintah Allah terhadap Iblis belum seberapa bandingannya, apabila kita perhadapkan dengan perintah Allah terhadap Nabi Ibrahim as.

Di akhir kisah yang diberitakan oleh Alquran kepada kita, Ibrahim yang mendapatkan ujian yang berat di dalam kehidupannya justru mampu melewati semuanya dengan baik, ia lulus dengan predikat nilai yang membanggakan di hadapan Allah. Sementara Iblis dalam menyikapi perintah Tuhan justru gagal atau tidak lulus dalam ujian.

Kepada Ibrahim Allah memuji, salamun ‘ala Ibrahim, kadzalika najzil muhsinin, innahu min ‘ibadinal mu’minin (Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim as”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman). Dan kepada Iblis Allah berfirman, fahbith minha fama yakunulaka antatakabbara fiha, fakhruj innaka minash shaghirin (Maka turunlah kamu darinya [Surga] karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk makhluk yang hina)

Ibrahim bersama anaknya Ismail mampu menundukkan dan mengendalikan ego yang ada pada diri mereka. (“Hai anakku, Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”)

Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Ismail mampu menundukkan dan mengendalikan egonya seperti yang disebutkan di dalam ayat Alquran:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ *
Terjemahnya: Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matikuhanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam [162] Tiada sekutu baginya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah yang pertama-tama berserah diri. [163] (QS. Al-An’am/ 6: 162-163)

Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Ismail mampu menundukkan dan mengendalikan egonya seperti yang disebutkan kalimat yang diajarkan oleh para ulama kita:

إِلهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِي وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ
Artinya: Ya Tuhanku, Engkaulah tujuanku, dan keridhaan-Mulah yang kucari.

Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Ismail mampu menundukkan dan mengendalikan egonya seperti yang disabdakan oleh Baginda al-Mushthafa Nabiyyina Muhammad saw:

مَنْ أَحَبَّ لِلهِ وَأَبْغَضَ لِلهِ وَأَعْطَى لِلّهِ وَمَنَعَ لِلهِ فَقَذِاسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ (رواه أبو داود عن أبي أمامة)
Artinya: Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang karena Allah, maka sungguh sempurnalah imannya. (HR. Abu Daud dari Abi Umamah)

Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Ismail mampu menundukkan dan mengendalikan egonya hanya untuk Allah semata, seluruh tindak tanduknya, tarikan dan hembusan nafasnya, gerak dan diamnya, di keramaian dan di kesunyiannya hidupnya, zhahiriyah dan bathiniyahnya semua di dasari oleh lillahi semata, lasyarikalah (tiada yang lain). Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Ismail as menyadari betul bahwa hidup ini tidak mempunyai arti apa-apa kecuali jika mempunyai makna dan tujuan. Karena mereka percaya bahwa di dalam semangat berkorban itulah makna dan tujuan hidup ini mereka temukan. Serta menginsafi bahwa makna dan tujuan hidup yang benar ada dalam ridha Allah. Ridha Allah itulah yang juga menjadi tujuan hidup kita. Sebab dalam ridha Allah atau perkenan Tuhan itulah kita akan merasakan kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang kekal abadi.

Sementara Iblis la’natullahi alaih justru terjerumuskan oleh ego yang dimilikinya. Ana khairun minhu, khalaqtani min narin wakhalaqtahu min thin (Aku lebih baik dari pada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah) kata Iblis la’natullahi alaih. Ia berubah menjadi makhluk yang sombong, yang membanggakan diri sendiri, serta meremehkan kemuliaan yang dimiliki oleh makhluk yang lain. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud Dari Nabi saw bersabda: Tidak akan masuk surga bagi orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun sebesar dzarrah. (HR. Muslim)

Mengenali dan menyikapi persoalan ego yang biasa menjebak manusia sehingga berperilaku seperti yang telah menimpa Iblis la’natullahi alaih adalah sesuatu yang sangat penting, demi kehatia-hatian kita di dalam menjalani kehidupan kita di dunia yang selalu diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu baik dan buruk, atau jalan yang mengantar pada keselamatan dan jalan yang menjerumuskan ke dalam belantara kesesatan. Menurut M. Muthahhari, ego dapat diklasifikasi ke dalam tiga jenis sebagai berikut:

A. Ego individualisme. Sebagian manusia itu egois dan angkuh, mereka benar-benar hidup sendirian. Efek yang ditimbulkan adalah perlakuan keji, moral yang rusak, perampasan hak orang lain dan kezaliman lainnya.

B. Ego kekeluargaan atau kelompok. Ego dalam wilayah ini terkesan tampil sebagai orang yang adil di lingkungan keluarga atau kelompoknya, namun di luar wilayah tersebut anda akan menyaksikan tindakannya yang melampaui batas. Misalnya, di antara sesama anggota perampok, mereka mampu menampakkan sifat saling mengasihi, lemah lembut, jujur, berbuat adil, saling memberi informasi yang benar dll.

C. Ego kebangsaan. Ego ini lebih luas dari dua ego sebelumnya. Pada bangsanya ia dapat bersikap jujur, ia bukan pencuri, penipu, pembunuh, dan pelaku perbuatan zalim lainnya. Tetapi seiring semua itu, akan kita dapati suatu bangsa yang menzalimi bangsa lain. Semua keluhuran budi, kejujuran, perdamaian, kasih sayang, keadilan dan melindungi Negara-negara lemah hanya didasarkan pada alasan apabila menguntungkan Negara adikuasa.

Untuk melawan ego tersebut, terdapat dua pilihan yang biasa ditempuh oleh manusia; pertama, melemahkan ego seperti yang dilakukan oleh penganut Hindu, Budha ataupun beberapa orang dari kelompok Islam sendiri. Kedua, memperluas batasan ego hingga mencakup seluruh maujud alam, tanpa batas.

Di dalam ajaran Islam hanya dibolehkan menempuh cara yang kedua, yaitu memperluas batasan ego sehingga mencakup seluruh maujud yang ada di alam raya ini, tanpa batas, sehingga di satu sisi Islam mewajibkan ummatnya untuk melawan ego yang dimilikinya, sekaligus di saat yang bersamaan mewajibkan penganutnya agar mempertahankan hak dan kehormatan dirinya. Hal ini dapat kita perhatikan pada ajarannya yang membolehkan membalas orang yang menzalimi kita, tetapi hanyalah sebatas kejahatan yang mereka lakukan. Islam melarang melakukan pembalasan yang melampaui batas.

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخاري)
Artinya: Dari Anas dari Nabi saw bersabda: Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sama seperti ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari)

Demikian sabda baginda Nabi saw, wilayah akhlaqi di dalam ajaran Islam adalah mereka yang mencintai saudaranya seperti ketika ia mencintai dirinya sendiri. Bahkan penghormatan, kasih sayang, kecintaan dan sederet perbuatan baik lainnya tidaklah terbatas pada saudara seiman semata, tetapi termasuk di dalamnya non muslim. Tidak hanya untuk manusia semata, tetapi mencakup di dalamya tumbuhan, hewan dan seluruh makhluk ciptaan Allah. Keadaan inilah yang tercermin pada diri baginda Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ *
Terjemahnya: Dan tiadalah kami mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi segenap alam. (QS. Al-Anbiya’/ 21: 107)

Dalam hadis Nabi saw. bersabda:
وحدثني عن مالك انه قد بلغه ان رسول الله صعم. قال: بعثت لاتمم حسن الاخلاق (رواه مالك)
Artinya: Dan telah memberitakan kepadaku dari Malik, sungguh ia telah menyampaikannya bahwa sanya Rasulullah saw. bersabda “Aku diutus untuk menyempurnakan kabaikan akhlak. (HR. Malik)

Rasulullah telah membuktikan di dalam kehidupannya. Di dalam riwayat yang sampai kepada kita, keluhuran budi yang beliau miliki sungguh luar biasa. Manusia, benda hidup dan matipun mampu merasakan kasih sayang yang ada pada diri Rasulullah saw. Hamba yang mendekati Allah yang Maha Suci dengan niat, ucapan dan bertindak yang selalu didasari karena lillah semata akan mampu mendatangkan efek kesucian pada dirinya. Mereka yang mendekati wewangian akan tentu akan menghirup dan menikmati aroma wangi yang menyegarkan.

Mereka yang selalu merasakan kehadiran Allah, merasakan kebersamaan dengan Allah, bahkan telah sampai larut dalam kecintaan pada Allah di dalam kehidupannya, maka ia akan tampil layaknya seseorang yang sedang di mabuk cinta terhadap lawan jenisnya. Apapun yang berkenaan dengan sang kekasih, sungguh begitu istimewa di dalam kehidupannya. Di saat mengucap atau mendengar nama kekasihnya disebut, hatinya langsung bergetar. Dari detik ke menit, dari menit ke jam, hari, bulan dan seterusnya ingatannya pada sang kekasih terus terjaga. Tak berani ia menyakiti kekasihnya, bahkan di dalam kehidupannya ia akan persembahkan sesuatu yang paling istimewa buat kekasihnya.

Alangkah indahnya apabila keadaan hati yang seperti itu hadir di dalam kecintaan kita pada Allah swt. Di setiap tempat, waktu dan keadaan dzikrullah terus terjaga. Kala mendengar nama-Nya disebut, hati bergetar. Di dalam beribadah kepada Allah selalu mengusahakan persembahan yang terbaik.

Mari bergegas mengikuti jejak keteladanan Ibrahim as dan anaknya, Ismail as di dalam mentaqarrubkan diri kepada Allah, meneladani ketulusan berkorban, serta melawan godaan hidup yang hanya menawarkan kesenangan sesaat, mengikuti jejak keteladanan untuk mencapai hidup bahagia yang abadi. Itulah ruh yang terkandung di dalam peristiwa bersejarah tersebut, yang menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji. Sungguh nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail as. Maka Allah melarang menyembelih Ismail as dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing).

Kepada saudara-saudara yang telah menunaikan haji, dan yang telah bertekad akan menunaikan ibadah haji kelak pada tahun-tahun mendatang. Renungkanlah bahwa hakikat haji adalah perjalanan ruhani dari rumah-rumah yang selama ini memenjarakan diri kita menuju Rumah Tuhan. Haji yang mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan sifat-sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyyah (ketuhanan).

Ketika Abu Bashir terpesona mendengarkan gemuruh zikir orang-orang yang melakukan thawaf, Imam Ja’far al-Shadiq, seorang maestro sufi yang juga cucu Baginda Nabi saw, mengusap wajahnya. Abu Bashir terkejut karena ia kemudian menyaksikan banyak sekali binatang di sekitar Baitullah. Dia sadar bahwa zikir dengan lisan saja tidak cukup untuk mendapatka derajat mabrur.

Kepada al-Syibili yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji, Imam Zainal ‘Abidin , seorang sufi besar dari keluarga Nabi saw, bertanya kepadanya, “Ketika engkau sampai di Miqat dan menanggalkan pakaian berjahit, apakah engkau berniat menanggalkan juga pakaian kemaksiatan dan mulai mengenakan busana ketaatan? Apakah juga engkau tanggalkan riya’ (suka pamer), kemunafikan, dan syubhat? ketika engkau berihram, apakah engkau bertekad mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan oleh Allah? Ketika engkau menuju Makkah, apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah? Ketika engkau memasuki Masjid al-Haram, apakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak akan menggunjingkan sesama umat Islam? Ketika engkau sa’i, apakah engkau merasa sedang lari menuju Tuhan di antara cemas dan harap? Ketiga engkau wuquf di Arafah, adakah engkau merasakan bahwa Allah mengetahui segala kejahatan yang engkau sembunyikan dalam hatimu? Ketika engkau berangkat ke Mina, apakah engkau bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu, tanganmu dan hatimu? Dan ketika engkau melempar jumrah, apakah engkau berniat memerang Iblis selama sisa hidupmu?”

Ketika untuk semua pertanyaan itu, al-Syibili menjawab “tidak”, Imam Zainal ‘Abidin mengeluh, “Ah…, engkau belum ke miqat, belum ihram, belum thawaf, belum sa’i, belum wuquf, dan belum sampai ke Mina.” al-Syibli menangis. Pada tahun berikutnya, dia berniat memperbaiki manasik hajinya.

Mereka yang sanggup membersihkan diri dari kotoran ruhaniah dengan mendekati Allah yang suci. Merekalah yang berhasil menggapainya, mabrur. Marilah kita menjadikan momen hari raya ‘Idul Adha ini untuk mengenang histori keteladanan abadi sang khalilullah, kekasih Allah, Nabi Ibrahim as dan putranya Isma‘il as dalam menemukan dan menggapai keridhaan Allah. Mari menggemakan takbir dan tahmid, seraya berusaha menyerap makna yang terkandung di dalamnya.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ *
Terjemahnya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj/ 22: 37).

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd! Wassalam.

Punulis : Muhammad Yunan (Dosen STAIN Majene).

Komentar

News Feed