oleh

Imran Telan ”Pil Pahit” Proyek Batu Gajah Lariang

-Uncategorized-112 Pembaca

Darasaksara.com – PASANGKAYU – Proyek pembangunan pengendali banjir dan penguatan tebing sungai Lariang, yang ada di Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat senilai 4,6 Miliar APBN TAHUN 2022 menyisahkan masalah.

Betapa tidak, Imran salah seorang pelaksana lapangan yang juga berperan sebagai Sub-kon, mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah pada proyek yang dikerjakan oleh CV. Singa Merah, asal Manado.

Melalui Press reales yang disampaikan via WhatsApp kepada laman ini, Sabtu 7 Januari 2023, Imran menceritakan atas kerugian yang ia alami mencapai Rp.380 Juta.

Imran membeberkan bahwa, tak hanya modal pribadinya yang ia gunakan dalam kegiatan tersebut, biaya operasional Ka Balai dan Kasatker serta biaya kunjungan PPK termasuk biaya operasional pencairan juga ikut ditanggung.

”Jika ditaksir, dana pribadi masuk pada pekerjaan proyek itu mencapai Rp.380 Juta, belum termasuk sewa alat Breker yang sampai saat ini juga belum dibayar senilai Rp. 35 Juta dan semua operasional Satker dan Ka Balai termasuk biaya hotel kami biayai,” ungkap Imran.

Pria yang akrab disapa Ibeng ini menjelaskan keterlibatan dirinya pada proyek tersebut, dimana ini diawali bahwa kondisi keungan perusahaan CV. Singa Merah saat itu kurang stabil. Dan saat itu, dimungkinkan proyek tidak akan selesai. Sehingga atas kondisi tersebut, pihak Balai selaku penanggung jawab kegiatan, menawari  dirinya untuk ikut masuk dalam kegiatan tersebut sebagai Sub-Kontrak dengan tujuan bisa bekerja sama dengan CV.Singa Merah untuk bersama – sama melanjutkan kegiatan sampai rampung.

Lebih jauh, Imran menambahkan, karena modal perusahaan saat itu dinilai kurang maksimal, sehingga pihak Balai merasa khawatir terhadap batas waktu pekerjaan, dari situlah komunikasi antara saya dengan pihak Balai terjalin, bahkan pihak Balai berani memberikan jaminan bahwa setelah proyek tersebut  rampung, modal saya akan digantikan.

Lanjut kata Imran, saat proyek dinyatakan rampung setelah deadline yang telah ditentukan, yang dikuatkan dengan pencairan tahap terakhir yang telah selesai. Pada apa yang dia harapkan sebelumnya berupa keuntungan dari proyek tersebut, harus berakhir dengan ” Pil Pahit”. Sementara, modal pribadi senilai Rp. 380 Juta dinyatakan tidak tidak dikembalikan oleh pihak perusahaan.

”Jadi, pasca proyek ini selesai termasuk pencairan dana juga telah selesai, baru saya tahu bahwa saya tertipu dengan perusahaan, dan pihak perusahaan tidak mau mengembalikan modal serta tidak mau menanggung semua biaya yang saya bantukan termasuk sewa alat breaker,”Ungkapnya.

Atas apa yang dialami oleh Imran, ia mengaku akan membawa hal ini ke ranah hukum Polda Sulbar dengan berbagai bukti – bukti yang dimiliki.

”Semua bukti – bukti itu ada sama saya, tentu akan saya laporkan ke Polda, termasuk Satker dari pihak balai dan termasuk semua yang bertanggung jawab dalam proyek tersebut,” pungkas Imran.

[Riadi]

 

Komentar

News Feed