oleh

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Begini Harapan Aktivis Perempuan Di Mamuju

-Berita, Daerah-145 Pembaca

Darasaksara.com – Mamuju – Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) menjadi momentum sejumlah aktivis perempuan yang ada di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat untuk melakukan gerakan secara bersama sama.

Hal itu terlihat saat mereka memperingati “16 Days Of Activism Against Gender Violence” tersebut melalui panggung orasi di Anjungan Pantai Manakarra, Sabtu 5 November 2022.

Tak hanya sekedar agenda ceremonial semata, seluruh aktivis perempuan yang ada di Mamuju Sulawesi Barat ini tentu mempunyai sebuah narasi besar dalam upaya memperjuangkan kaum perempuan dan anak dalam praktek kekerasan dan diskriminasi.

Ketua Kohati HMI Cabang Manakarra, St. Ramlah Syahrir saat dikonfirmasi via WhatsApp mengatakan, Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Menurutnya, penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak, baik aktivis HAM perempuan, Pemerintah, maupun masyarakat secara umum.

Pihaknya berharap, ada sebuah kesadaran yang terbangun dari publik terkait issu – issu kekerasan pada perempuan termasuk upaya tetap mengawal produk regulasi yang berpihak pada kaum perempuan dan anak.

” Kami berharap agar ada kesadaran publik terkait issu – issu kekerasan pada perempuan dan anak, termasuk mengawal secara kolektif produk undang – undang yang memihak pada kaum perempuan dan anak serta upaya peningkatan sumber daya manusia yang mumpuni, termasuk komitmen dalam penolakan kekerasan pada perempuan dan anak,” harapnya.

Terpisah, ketua Kopri PC PMII Mamuju, Wilmaela melihat kegiatan kampanye 16HAKTP ini, selain berangkat dari sejarah awal gerakan 16HAKTP, yakni meninggalnya 3 aktivis perempuan pejuang pembebasan dari penindasan dan di hubungkan secara simbolik dengan HAM, begitu sangat penting untuk digaungkan.

Bukan tanpa alasan bagi Mahasiswi Unimaju ini, karena dapat meningkatkan kepekaan khalayak ramai yang menyaksikan terhadap permasalahan terkhususnya soal kekerasan yang masih saja selalu menjadi problem setiap perempuan maupun anak – anak di seluruh dunia.

Lebih jauh dia menjelaskan, dari kegiatan tadi, dapat saya tarik benang permasalahan yang masih saja menghantui perempuan – perempuan  di Sulawesi Barat, yakni persoalan kekerasan seksual, maka penting rasanya mengajak seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan.

“Tagar break the silence, speak against violence” yang kita tau bersama kekerasan seksual selalu saja terjebak pada pembungkaman para korban kekerasan,” imbuhnya.

Kemarin adalah milik sejarah, besok adalah milik orang lain, dan sekarang adalah milik kita. Dari itu mari kita kerja keras dari sekarang,kunci Wilmaela.

[Faidah]

Komentar

News Feed