Kekhawatiran Mustari Pondanga Akan Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah

Sosbud577 Pembaca

Darasaksara.com – Mamuju – Ada kekhawatiran yang tergambar dari raut wajah pria berusia 74 Tahun ini akan kepunahan bahasa daerah  terkhusus di wilayah Pitu Ulunna Salu (PUS) di tengah arus moderenisme.

Dia adalah H. Mustari Pondanga, S.pd yang saat ini telah memilih “Jalan Sunyi” menghabiskan waktunya memikirkan masa depan Pitu Ulunna Salu yang bukan tidak mungkin akan tercerabut dari akar kebudayaannya.

Tentu cukup beralasan, sebab akulturasi budaya yang saat ini terus berjalan berkelindang menjadi salah satu faktor generasi kita akan mengalami “Amnesia” pada identitasnya. Itu yang ia lihat.

Menurut penulis kamus Bahasa Aralle ini bahwa, bahasa adalah merupakan identitas suatu suku, Bangsa dan Negara yang semestinya harus tetap dipertahankan, akan tetapi, disaat yang sama generasi kita sudah banyak yang melupakan bahasa daerahnya sendiri.

Terkhusus di wilayah Pitu Ulunna Salu, Mustari Pondanga menyebut bahwa, ada dua dialek yang dikenal yakni dialek Pakkao dan dialek Pannei, sampai saat ini tersebar dibeberapa wilayah yang ada di pesisir pantai Pitu Ba’babana Binanga, sehingga baginya penting untuk terus kita cari tahu serta menggali lebih jauh agar kita tak kehilangan jati diri.

Selain itu, Mustari tak lupa menyampaikan rasa takjubnya pada apa yang telah diwariskan leluhurnya di wilayah Pitu Ulunna Salu terkait tentang bahasa.

Salah satu keunggulan kita di Pitu Ulunna Salu, bahwa meski terdapat perbedaan bahasa dan dialek dalam melakukan komunikasi baik ditempat umum seperti pasar, kita masih tetap mengerti apa makna yang disampaikan dan itu adalah keunikan kita,” ujarnya.

Dia juga menambahkan, diwilayah Pitu Ulunna Salu, ingatan atau daya pikir para tetua terdahulu begitu sangat kuat, hal itu dibuktikan bahwa sejumlah pesan – pesan yang memiliki nilai hanya disampaikan melalui penuturan.

Diakuinya, pada kamus bahasa Daerah Aralle – Indonesia yang ia tulis didalamnya terdapat 6000 kosa kata, dan masih ada kisaran 300 kosa kata yang belum ia masukkan kedalam kamus tersebut.

“Dalam kamus yang saya tulis ini, tersapat 6000 kosa kata dan masih ada kisaran 300 kosa kata yang belum saya masukkan, sehingga ini perlu untuk kembali kita gali lebih jauh,” kata Mustari.

Meski demikan, diusianya yang kini tak muda lagi, masih ada setitik harapan pada generasi untuk memikirkan efek akan kepunahan bahasa daerah, sehingga dibutuhkan sebuah langkah dalam mempertahankan dan melestarikan melalui upaya menggali dan melakukan penelitian serta menuliskannya.

“Saya berharap upaya penulisan kamus ini bisa terus berkelanjutan untuk dapat dijadikan bahan referensi di sekolah – sekolah serta perpustakaan yang ada,” harapnya.

Harapan tak boleh pupus, sebab kita tak  punya keinginan untuk mengeliminer akar kebudayaan,” begitulah harapan Mustari diakhir perbincangan kami di kediamannya di Jalan Kumbang Lollo’ Mamuju, Provinsi Sulawe Barat.

[Riadi]

Komentar