oleh

Rumput Laut Di Pesisir Takatidung, Sisahkan Kenangan Jadi Nelayan Tangkap Ikan

Darasaksara.com –¬†Polman – Nampak jelas, pantulan sinar surya tak terlihat dipermukaan laut biru Lingkungan Mangeramba, Kecamatan Takatidung Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada pukul 09 : 00 pagi tadi.

Kini berganti dengan botol – botol mineral bekas yang mengapung diatas laut, diikat dengan tali nilon, sebagai tempat bergantung rumput laut nampak dimata membentang disepanjang wilayah pesisir Takatidung.

Tepat hari Senin, (14/09/20) tadi, riuh aktivitas warga Lingkungan Mangeramba, Takatidung Polman sedang panen rumput laut jenis brokoli. Perempuan tentu tak kehilangan peran, mereka terlihat begitu telaten menyediakan kopi sebagai penghangat tubuh dipagi hari bagi laki – laki yang sedari pagi berendam dengan air asin.

Perahu cadik yang dipenuhi rumput laut hilir mudik menuju bibir pantai, secara bergantian para lelaki Mandar ini mengangkat hasil panennya ke darat dengan telanjang kaki, sebagian lainnya, ada yang melepaskan ikatan nilon dan botol mineral sebagai tempat rumput laut bergantung dengan cara manual.

Pergeseran Aktivitas Warga Takatidung Dari Nelayan Tangkap Ikan Ke Budidaya Rumput Laut.

Sekedar refleksi histori, laman ini sengaja mengorek awal aktivitas masyarakat sebelum membudidayakan rumput laut, dimana dari pengakuan salah seorang warga bahwa sebelumnya, hampir semua warga disekitar Lingkungan Mangeramba ini adalah para nelayan, namun sejak demam rumput laut ” menjangkiti” warga pada 5 Tahun silam, kini semuanya beralih membudidayakan rumput laut.

Sebut saja pak Ricu (40), lelaki paruh baya ini mengaku awalnya ia adalah seorang nelayan penangkap ikan, namun kini dirinya ikut dalam membudidayakan rumput laut.

” Nelayan semua dulu di Takatidung pak, hanya sekarang beralih ke rumput laut,” ujar Ricu.

Bagi Ricu, melakoni aktivitas sebagai pembudidaya rumput laut adalah merupakan pilihan terakhir setelah tak lagi menjadi nelayan penangkap ikan, hal itu disebabkan karena 2015 silam, kegiatan ini sangat menjanjikan jika bicara urusan rupiah.

” Sejak 2015 lalu, harganya rumput laut sangat bagus ketimbang jadi nelayan penangkap ikan, sehingga kami memilih ini,” katanya.

Selain itu, proses kerjanya juga dinilai simpel, dimana menurutnya, kita hanya menanam bibit, menunggu hasil dalam jangka waktu 45 hari – 50 hari, tergantung dari cuaca.

Proses penjemuran pun hanya memakan waktu 5 – 6 hari jika musim kemarau,” imbuhnya.

Bukan tanpa kendala tentunya, membudidayakan rumput laut bagi Kaco (33), juga punya tantangan, dimana menurutnya, rumput laut juga kadang diserang penyakit jika musim penghujan tiba, ia nampak putih karena kadar garam pada air laut sedikit berkurang.

Selain penyakit, harga juga diakui perlahan menurun.

” Bukan cuman penyakitnya dek, harga juga sekarang perlahan turun, karena dulu tahun 2019 itu harganya mencapai Rp. 21.000 – 22.000 / Kg, sekarang hanya Rp 13.000 / Kg untuk yang kering, dan Rp 3.000/ Kg yang masih basah,”ungkap Kaco.

Sementara untuk pembelian bibit dari dua jenis rumput laut yakni jenis Katonik dan Brokoli, Kaco mengaku berada dikisaran Rp 3.000/Kg sampai Rp 3.500.

Meski demikian, ia tak menampik ada bantuan bibit dari pemerintah kepada sejumlah warga disekitaran pesisir Takatidung ini.

Alhamdulillah, soal bibit adaji bantuan dari pemerintah, namun kita tidak sepenuhnya harus menunggu bantuan itu untuk bisa memulai.” Kunci Kaco.

Sekedar diketahui, perahu cadik yang berjejer dibibir pantai Takatidung saat ini, kini digunakan untuk aktivitas menanam dan panen rumput laut, kadang sesekali digunakan untuk lomba balap perahu cadik, mungkin saja sebagai cara mengusir lelahnya berjibaku dengan aktivitas budidaya rumput laut.

Penulis : Admin.

Komentar

News Feed