oleh

Warga Mamuju Temukan Batu Nisan, Diduga Perempuan Terhormat Suku Cantong China

-Mamuju, Sosbud-606 Pembaca

Darasaksara.com – Mamuju – Salah seorang Warga Dusun Taruminding, Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, mengaku menemukan sebuah batu nisan dan guci serta sebuah pisau dari penggalian yang dilakukan di kebun miliknya pada 17 Agustus 2020 lalu.

Hartono Warga Dusun Taruminding Desa Bambu saat dikonfirmasi mengatakan, saya kaget saat melakukan penggalian di kebun untuk pembuangan air. Namun, setelah kedalaman sekira 80 cm, tiba – tiba saja saya menemukan sebuah batu diduga nisan yang bertuliskan aksara China, dan setelah melanjutkan penggalian saya kembali menemukan sebuah guci.

Atas penemuannya tersebut, Hartono kemudian membersihkan batu yang diduga nisan dan guci itu.

” Jadi setelah saya menemukan dari penggalian di kebun, kedua benda itu saya bersihkan, terkhusus guci yang penuh dengan tanah, saya bersihkan dan kami temukan satu buah pisau kecil didalamnya,” kata Hartono.

Sejak penemuan tersebut pada tahun 2020 lalu, Hartono mengaku menyimpan barang – barang yang diyakini sebagai peninggalan di masa lalu di rumahnya.

Jadi saat kami temukan batu nisan dan guci itu, kami simpan di rumah saja, dan baru di tahun 2021 atas desakan sejumlah teman – teman wartawan lalu kemudian hal ini kami sampaikan ke publik,” terangnya.

Terpisah, Wakil Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Mamuju, Charli Wijaya saat dikonfirmasi via WhatsApp, Senin 23 Agustus 2021 menjelaskan bahwa, jika melihat dari batu nisan tersebut, itu adalah nisan biasa saja, marga Thio wanita suku Cantong. Tetapi ini juga menunjukkan bahwa sejak tahun kematian yang tertera pada nisan, cukup menjelaskan suku Tionghoa sudah berada di Mamuju.

Charlie mengungkapkan bahwa, Kalau meliat dari temuan nisan atau bong pai ini, sudah pasti sejak zaman dahulu, eksistensi suku Tionghoa sudah ada di Mamuju, dimana menurutnya, membuat nisan seperti ini bahan bakunya mesti di cari dari kota besar,
berupa  batu granit yang umum di gunakan membuat nisan suku Tionghoa bahkan sampai saat ini.

Sementara, salah satu peneliti asal Mandar Sulawesi Barat, Muhammad Ridwan Alimuddin menjelaskan bahwa, memang tulisan yang terdapat pada nisan tersebut adalah tulisan China, dan, itu diperkiran pada tahun 1926. Karena pada batu nisan itu, tertulis tahun 15 yang setara dengan 1926.

Lebih jauh, Ridwan menjelaskan, dalam penulisan huruf China dan Japan,  penggunaan karakter huruf pada nama seseorang disesuaikan dengan jenis kelaminnya. Dan saat kami konfirmasi kepada salah satu rekan
kami yang berwarga negara Japan, dalam penggunaan karakter huruf tersebut dia adalah sosok perempuan terhormat.

Selain itu, kata Ridwan, pada nisan tersebut bertuliskan Cantong, yang merupakan salah satu suku di China, dimana, dalam catatan sejarah, suku Cantong ini merupakan suku di China yang cukup banyak berdiaspora atau menyebar di belahan dunia khususnya di kawasan Asia, termasuk ke Indonesia.

Ditanya soal soal guci yang juga menjadi temuan warga Dusun Taruminding ini , bagi Ridwan itu adalah hal yang umum, karena pada zaman dahulu, guci itu digunakan sebagai tempat air para pelaut, tetapi memang diproduksi di China, dan itu bukan sesuatu yang langka.

Sementara soal pisau kecil yang juga menjadi bagian penemuan warga tersebut, Ridwan belum bisa memberikan penjelasan secara komprehensif.

Soal itu tentu harus dilihat secara langsung dan termasuk mengetahui berapa ukurannya, meski demikian, jika melihat modelnya, sedikit ada perbedaan pembuatan pisau yang ada di Mandar secara umum,” kunci Ridwan.

Untuk diketahui, ukuran batu nisan tersebut tinggi 57 cm, lebar
23 cm,  sementara ukuran guci 120 cm  lingkaran, tinggi 50 cm dan pisau 26 cm.

Ar/Ad.

Komentar

News Feed